MADAHA.ID – Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara mengambil langkah tegas mengevaluasi kinerja Kepala sekolah (Kepsek) serta para guru di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Sanana Utara.
Langkah itu dilakukan menyusul SMP Negeri 2 Sanana Utara selama tiga tahun terakhir mengalami penurunan peminat saat memasuki tahun ajaran baru. Lebih parah lagi di tahun ajaran baru 2026 terdapat hanya satu siswa yang mendaftar di sekolah beralamat Desa Pohea, Kecamatan Sanana Utara itu.
Sementara, total jumlah siswa secara keseluruhan tercatat hanya sebanyak 20 orang terdiri dari kelas VII, VIII, dan IX. Kondisi buruk ini sempat menjadi wacana publik terutama tahun ajaran baru 2026 dimana hanya satu calon siswa baru.
Menanggapi persoalan itu, Disdik Kepulauan Sula mengambil langkah cepat mencari titik masalahnya serta formula yang tepat guna SMPN 2 Sanana Utara terhindar dari ancaman ditutup.
“Tadi kami bersama masyarakat desa setempat menggelar rapat untuk mencari mencari titik masalah dimana sehingga tidak menyekolahkan anak-anak mereka SMP 2 yang secara akses lebih dekat,” kata Kabid Pendidikan Dinas Pendidikan Kepsul M. Rizal Kailul, Kamis (16/7/2026).
Pada pertemuan itu, pihak Disdik menemukan beberapa alasan yang membuat warga setempat lebih memilih menyekolahkan anak mereka di tempat lain, meski telah diberlakukan pembagian zonasi sekolah.
Dimana, SMPN 2 Sanana Utara tidak melakukan sosialisasi terkait dengan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Katanya, sistem tersebut diantaranya adalah sistem prestasi, sistem domisili afirmasi.
“Jadi kalau secara aturan, orang tua murid juga menyalahi aturan, karena mereka sudah menyekolahkan anak mereka diluar dari sistem yang sedang berlaku saat ini,” akuinya.
Meski begitu, warga setempat ngotot agar pihak Dinas mengevaluasi kinerja kepala sekolah. Lanjut Rizal, alasan mereka adalah sering kali kedapatan para siswa sering berkeliaran pada waktu belajar.
“Ternyata kami telusuri turun di sekolah guru disana banyak tapi mungkin Kepsek kurang perhatikan terhadap guru-guru sehingga ada guru yang kurang aktif menyebabkan siswa berkeliaran di luar sekolah,” terang Rizal. Tambahnya, persolan tersebut juga menjadi satu alasan tidak menyekolahkan anak mereka di sekolah setempat.
“Dan kondisi lingkungan sekolah yang sedikit meresahkan meraka punya anak sekolah disana. Itu kita tak bisah dipungkiri sekolah itu tidak punya pagar sama sekali,” bebernya.
Disisi lain, warga setempat lebih menginginkan anak-anaknya sekolah di sekolah unggulan dan mendapat prestasi.
Kondisi itu, ia menegaskan, Dinas akan mengambil langkah mengevaluasi kinerja kepala sekolah serta guru dan kondisi lingkungan sekolah agar kedepan tidak terjadi hal serupa.
“Pagar ini menjadi tanggung jawab kami dari Dinas, sehingga tahun depan orang tua murid berminat menyekolahkan anaknya disana, itu pun kalau permintaan mereka terpenuhi,” pungkasnya (*).
Laporan : Aryanto
Editor : Tim Redaksi







