Menu

Mode Gelap
Harumkan Nama Daerah di Kancah Nasional, Amelia Dapat Dukungan Pemda Kepsul Muscab PKB Kepulauan Sula Digelar, Nasib Ketua DPC Ditentukan DPP Bupati Turun Tangan, Tiket Pesawat Ternate-Sanana Disubsidi di Tengah Lonjakan Harga BKPM Laksanakan Penilaian Kinerja PTSP dan Percepatan Berusaha 2026 Dukung Program Pusat, Dinas Pertanian Sula Petakan Lokasi Pembibitan Kakao Dedikasi dan Amal: Sosok Bupati Kepulauan Sula dalam Membangun Negeri dan Iman

Headline

Keteguhan di Tepi Laut: Perjuangan Marni Buamona Menopang Lima Anak di Desa Samuya

badge-check


					oplus_0 Perbesar

oplus_0

MADAHA.ID – Di sebuah sudut pesisir Desa Samuya, Kecamatan Taliabu Timur, Kabupaten Pulau Taliabu, hidup seorang perempuan yang tak pernah berhenti berjuang melawan keadaan. Namanya Marni Buamona (45). Sejak suaminya meninggal dua tahun lalu, ia memikul beban hidup seorang diri menjadi ibu sekaligus tulang punggung bagi lima anaknya.

Pagi bagi Marni bukan sekadar awal hari, melainkan awal dari serangkaian pekerjaan tanpa henti. Dari mengolah kopra, melaut, hingga menyulam atap dari daun sagu, semua ia lakukan demi menyambung hidup dan memastikan anak-anaknya tetap bersekolah.

Di desa itu, Marni dikenal sebagai pekerja serabutan yang tak pernah memilih jenis pekerjaan. Apa saja yang bisa menghasilkan uang, akan ia kerjakan. Kadang ia mencuci pakaian warga, menjaga kebun, atau membantu memanjat pohon kelapa untuk diolah menjadi kopra.

“Kalau kerja kopra, hasil dibagi dua dengan pemilik. Kalau ada yang bantu panjat, harus dibayar juga,” tuturnya saat ditemui, Madaha.id pada Jumat (27/3/2026).

Untuk menyulam atap dari daun sagu, ia hanya dibayar sekitar Rp10 ribu per lembar. Nominal kecil itu harus cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus biaya pendidikan anak-anaknya.

Dari lima anak yang ia besarkan, sebagian masih duduk di bangku SD, SMP, dan SMA/SMK. Bahkan satu di antaranya tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

“Kalau beli alat tulis, kadang tidak bisa semua terpenuhi. Untung baik Anak-anak sudah tauh keadaan,” ucapnya lirih.

Rumah di Ujung Risiko

Di balik perjuangannya, Marni dan keluarganya masih harus menghadapi kenyataan pahit, tempat tinggal berada di Dusun III itu jauh dari kata layak. Rumah papan beratap daun sagu itu berdiri di lokasi rawan, dekat dengan laut dan ancaman longsor.

Saat cuaca ekstrem datang, air laut kerap masuk hingga ke dapur. Tak hanya itu, hujan deras membuat atap bocor, sementara tanah di sekitar rumah perlahan terkikis.

“Kalau ombak besar, air sudah masuk ke dalam. Kalau hujan, atap bocor. Tanah juga sering longsor dekat fondasi,” katanya.

Padahal, Marni termasuk warga yang terdata sebagai masyarakat kurang mampu. Ia bahkan sempat terdaftar sebagai calon penerima bantuan program peningkatan rumah tidak layak huni pada 2025., dari pemerintah kabupaten. Surat pernyataan pun telah ditandatangani oleh pemerintah desa.

Namun hingga kini, bantuan tersebut belum juga terealisasi.

“Kayu untuk bangun rumah sudah ada sedikit. Tinggal menunggu kelanjutan bantuan, kalau seng, dapa rejeki lebih bikin sendiri pelan-pelan,” ujarnya penuh harap.

Janji yang Belum Terwujud

Di Desa Samuya, harapan warga terhadap perbaikan rumah layak huni bukan hal baru. Warga setempat mengingat janji politik yang pernah disampaikan saat masa kampanye beberapa waktu lalu.

Kala itu, desa ini menjadi salah satu lokasi kampanye awal seorang tokoh politik daerah bersama pasangannya. Janji untuk memperbaiki rumah-rumah tidak layak huni sempat digaungkan di hadapan masyarakat.

“Dulu pernah disampaikan kalau rumah tidak layak huni akan diperbaiki, oleh Calon Gubernur,” kenang seorang warga diwawancara Redaksi Madaha.id.

Namun bagi Marni, janji tinggal janji. Yang ia miliki hari ini hanyalah tekad untuk terus bekerja dan harapan sederhana: melihat anak-anaknya tetap sekolah dan suatu hari bisa tinggal di rumah yang aman.

Di tengah keterbatasan, Marni adalah potret keteguhan seorang ibu yang memilih bertahan, bekerja tanpa lelah, dan terus berharap, meski keadaan belum berpihak.(*)

Laporan : Aryanto

Editor : Tim Redaksi

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Harumkan Nama Daerah di Kancah Nasional, Amelia Dapat Dukungan Pemda Kepsul

21 April 2026 - 03:04 WIT

Muscab PKB Kepulauan Sula Digelar, Nasib Ketua DPC Ditentukan DPP

21 April 2026 - 01:21 WIT

Bupati Turun Tangan, Tiket Pesawat Ternate-Sanana Disubsidi di Tengah Lonjakan Harga

20 April 2026 - 03:37 WIT

BKPM Laksanakan Penilaian Kinerja PTSP dan Percepatan Berusaha 2026

18 April 2026 - 04:01 WIT

Dukung Program Pusat, Dinas Pertanian Sula Petakan Lokasi Pembibitan Kakao

18 April 2026 - 03:37 WIT

Trending di Headline