MADAHA.ID – Kepala sekolah (Kepsek) SD Negeri Manaf, Kecamatan Sulabesi Tengah, Kabupaten Kepulauan Sula, Maryana Selpia akui kesalahan dan kelalaian tidak disiplin waktu menyebabkan siswa keluar dari halaman sekolah dan berkeliaran bebas di jalan raya saat jam belajar dimulai.
Pengakuan itu disampaikan Maryana saat menghadiri dipanggil Kepada Bidang Guru Tenaga Kependidikan (GTK) M. Rizal Kailul mewakili Kadisdik Kepsul Marini Nur Ali untuk memberikan keterangan klarifikasi.
“Kepsek akui bahwa ada kesalahan dan kelalaian dari mereka sehingga mengakibatkan para murid terlambat apel dan proses belajar mengajar di kelas,” ucap Kepada Bidang Guru Tenaga Kependidikan (GTK) M. Rizal Kailul, Kamis (29/1/2026).
Dalam keterangan klarifikasi, kata Rizal, Kepsek beri alasan bahwa tenaga pengajar SD Negeri Manaf baik Aparat Sipil Negara (ASN) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) maupun honorer, mereka bukan berasal dari warga desa setempat .
“Alasannya karena sebagian besar guru bukan dari Desa Manaf,” Sambung Rizal atas Keterangan Kepsek.
Jika dicermati, alasan Maryana saat beri keterangan klarifikasi terkesan tidak mencerminkan sebagai seorang tenaga pendidik yang bertanggung jawab.
Untuk itu, Kepsek Maryana diminta segara melakukan rapat besar-besaran bersama para guru. Rizal menyatakan, atas perintah Kadisdik, dengan tujuan untuk menertibkan dan senantiasa meningkatkan kedisiplinan.
Sehingga, tambahnya, kejadian siswa keluar dari halaman sekolah serta berkeliaran di jalan raya diwaktu belajar tidak terulang lagi.
“Kalau sampai Ibu Kepsek tidak mengindahkan perintah ini, akan ada tindak lanjut dari Dinas Pendidikan Kepulauan Sula,” tegasnya. Setalah mendapat peringatan tegas dari Kadisdik, Kepsek SD Negeri Manaf nyatakan sikap akan berbenah. “Siap pak,” Rizal meneruskan ucapan Kepsek.
Kejadian siswa SD Negeri Manaf keluar dari halaman sekolah dan berkeliaran bebas di jalan raya di waktu belajar pada Rabu (18/1/2026). Ini bermula saat seluruh guru pada pukul 08.00 Wit belum juga berada di sekolah dan kejadian ini sudah berulang kali terjadi.
Perbuatan tidak mencerminkan mendidik sebagai tenaga pendidik membuat warga desa setempat merasa geram.
“Tapi setiap hari datang terlambat terus. Tentunya, katong yang rugi karena anak-anak seng dapa ajar. Kalau ana main di jalan kong kecelakaan, sapa yang tanggung jawab,” kesal warga. (*)
Penulis : Aryanto
Editor : Redaksi







